Alasan Lebron James ke Miami Heat

Lebron James

JAKARTA - Hanya ada dua label untuk pemain dalam olahraga: juara atau gagal. Kemenangan adalah satu-satunya tolak ukur kesuksesan seorang atlit dalam olahraga dan jumlah kejuaraan yang dimenangkan atlit tersebut adalah satu-satunya statistik yang relevan dalam mengukur kemampuan seorang pemain.

Baik anda setuju ataupun tidak, memang banyak cara untuk mengukur kehebatan seorang pemain. Namun biarlah kita berasumsi bahwa anda semua setuju akan hal ini. Karena dalam sebuah olahraga, kemenangan sangatlah dihargai. Kita suka seorang pemenang. Kita suka bila tim kita berhasil menang. Dengan berdasarkan pandangan di atas, maka tolak ukur kehebatan seorang pemain basket bisa diukur dari cincin juara yang ia dapatkan.

Dalam proses free agency menuju ke Miami Heat, James mengungkapkan banyak sisi dari kepribadiannya-arogan, tidak sensitif, narsis-namun jangan lupakan juga putus asa. Pada umur 25 tahun, James tentu merasa waktu semakin menipis. James tentu tidak ingin menunggu sampai umur 31 tahun dan sudah tidak berada pada masa keemasannya. James tidak ingin karirnya berakhir tanpa juara, karena ia akan dicap gagal.

Lebih baik juara, walaupun itu dengan cara apapun, ketimbang tidak sama sekali. Lebih baik mendapatkan cincin juara NBA bersama Dwyane Wade daripada tidak sama sekali. Keinginan James untuk menjadi juara lebih dari apapun tergambar jelas saat ia mengorbankan uang [ia mengambil jumlah uang lebih sedikit pada kontraknya untuk bermain dengan Bosh dan Wade], statistik, dan [hampir pasti] kehilangan gelar individual-yaitu trophy MVP regular season. Semua pengorbanan ini dilakukan agar James bisa menjadi juara dan LeBron melompat ke dalam kereta tercepat [ehmm...jalan pintas] menuju juara dengan membuat super team bersama Miami.

Jika seorang LeBron James mempunyai misi untuk menang, maka pilihannya untuk pergi ke Miami tidak salah. Namun jika Bron mempunyai misi untuk menjadi pemain terbaik di dunia dan melewati Jordan, seharusnya ia bergabung dengan Bulls, dimana ia akan menjadi superstar yang bintangnya akan bersinar paling terang disana. Bulls pun bisa memenangkan beberapa cincin juara dengan lineup: Boozer-Rose-Deng-James-Noah. Ini adalah starting five yang merata dan menjadi ancaman dari lima posisi.

Bagaimana dengan misi menjadi ikon global di Miami? Tidak seperti yang dikatakan owner Nets, Mikhail Prokhorov, bahwa LeBron tidak akan menjadi ikon global di Miami: LeBron tetap akan jadi ikon global di Miami. Dengan era YouTube, siapapun yang memiliki kamera dan koneksi internet bisa menjadi bintang di seluruh dunia dengan jumlah hits video yang cukup. Apalagi jika televisi menyiarkan pertandingan Miami setiap saat.

Seandainya seorang LeBron James bermain dengan mega bintang lain di Miami Heat dan menjadi juara nanti, tentu saja kita tidak akan mendiskredit pencapaiannya menjadi seorang pemenang. Magic Johnson dulu punya Kareem Abdul-Jabbar. Larry Bird punya rekan-rekan setim yang masuk dalam Hall of Fame. Michael Jordan punya Scottie Pippen. Dalam 30 tahun terakhir, para juara di NBA setidaknya mempunyai dua superstar kaliber hall of fame. Namun James memiliki pengertian yang salah tentang bagaimana cara menuju juara.

Berikut adalah letak kesalahan James akan keputusannya untuk pindah ke Miami Heat untuk bergabung bersama Dwyane Wade dan Chris Bosh. Tadinya saya pikir LeBron bakal memilih kesempatan untuk menang (Chicago), kesetiaan (Cleveland), atau menjadi ikon global (New York). Saya tidak sangka LeBron ternyata memilih kata TOLONG (Miami)! LeBron memilih jalan yang paling mudah dan yang paling tidak membuat dirinya stress. Bayangkan sebuah pertandingan basket antara orang-orang yang tidak saling mengenal satu sama lain di lapangan basket dekat rumah anda.

Ketika memutuskan untuk membagi tim menjadi dua, sudah tentu kita ingin memisahkan dua pemain terbaik di lapangan tersebut ke dalam tim yang berbeda, jika tidak tentu pertandingan akan berjalan tidak seimbang. Itu sudah hukumnya. Jika dua pemain terbaik tersebut mempunyai harga diri, tentu mereka tidak ingin bermain dalam satu tim, mereka ingin menguji kemampuan satu sama lain. Ada lima pemain terbaik di NBA saat ini LeBron, Wade, Kobe, Howard dan Durant. Jika dua diantara lima pemain tersebut tergabung dalam satu tim karena kebetulan-seperti Shaq dan Kobe atau Michael dan Scottie-itu namanya nasib. Kobe dan Scottie berkembang dari pemain dengan kemampuan di atas rata-rata menjadi 25 pemain terhebat sepanjang masa.

Jordan dan Shaq tentunya tidak mengajak pemain hebat untuk bergabung dengan mereka, kebetulan Pippen dan Bryant memang punya motivasi yang kuat untuk menjadi hebat. Namun kasus James berbeda, ia memutuskan untuk bergabung dengan pemain hebat, bahkan kemampuan Wade melebihi Pippen di era keemasannya masing-msaing, dan bukan cuma satu pemain hebat tapi dua! LeBron memutuskan bahwa lebih gampang bergabung bersama Wade ketimbang mengalahkan satu sama lain.

Untuk atlit dengan kemampuan seperti James, mencoba mengisi dua pemain terbaik di liga ke timnya dalam sebuah pertandingan basket, adalah sebuah tindakan yang sangat disayangkan. Bayangkan jika Michael Jordan mengajak Karl Malone dan John Stockton untuk bergabung dengan dirinya di tahun 1996-1998. Pernah dengar istilah “if you cant beat them, join them” atau “jump into the bandwagon”? Itulah LeBron. Masalahnya adalah James tidak membangun dinastinya sendiri. Ia mengambil jalan mudah dengan menggandeng Wade, dan Bosh, untuk menang. Orang berpikir bahwa James mencari Robin sebagai partner. Ternyata James adalah Robin dan malah James yang membutuhkan Batman [Wade].

Sangat disayangkan karena pemain dengan talenta seperti James pantas untuk meraih cincin sebanyak MJ, bahkan menembus daftar sepuluh pemain terhebat sepanjang masa. Belum menang satu cincin juara saja,nama LeBron sudah saya taruh di daftar tersebut. James tidak akan bisa mengalahkan Jordan karena LeBron punya dua sidekick yang lebih hebat ketimbang Pippen dan Rodman.

Alhasil perjalanan LeBron untuk menjadi pemain terhebat sepanjang masa berakhir saat ia pindah ke Miami Heat. LeBron memiliki nick name the chosen one, percuma saja mengharapkan LeBron akan menjadi pemain yang sesuai dengan julukan tersebut. James sudah kalah satu cincin dibanding Wade. Seandainya Wade bertahan terus di Miami dan memenangkan cincin juara bersama James, gelar ‘the greatest player ever’ tidak akan jatuh ke tangannya. James akan kalah jumlah cincin juara dengan Wade, kecuali James berhasil mengungguli Wade dalam jumlah trophy MVP Finals, bisakah ia melakukannya?

Mungkin yang lebih penting dalam menjadi juara adalah tentang bagaimana proses meraihnya. Perjalanan mulai dari berhasil memenangkan 58 pertandingan di regular season, lalu mengalami sakit hati karena dikalahkan di conference finals, dan baru bisa juara di musim berikutnya. Mungkin hal tersebut akan terasa lebih indah ketimbang menjadi juara dengan mengajak dua dari tujuh pemain terhebat di NBA saat ini. Mungkin ia akan menyadari bahwa menjadi juara di Miami tidak akan sepuas ketika ia berhasil membawa tim yang tidak mungkin menjadi juara tanpa kontribusinya, seperti di Cleveland. Namun apapun itu, jika James menjadi juara kelak, saya rasa kita semua akan memujanya, bersama Dwyane Wade tentunya.


This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s